Pesona Kediaman Raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Para abdi dalem dengan telatennya mengurus istana. Guide dengan sabar memandu wisatawan. Turis tak henti-hentinya mengangumi setiap detail arsitektur. Penari dengan kalem berlenggak-lenggok bak putri kerajaan. Itulah suasana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ada banyak hal yang bisa kita lihat saat mengunjungi keraton. Di bagian depan atau yang berhadapan dengan alun-alun lor, kita bisa melihat detail bangsal mangunturtangkil. Di bagian depan bangsal terdapat keterangan yang menjelaskan bahwa bangsal ini digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono saat menghadiri upacara gerebeg pasa, gerebeg besar maupun gerebeg maulud. Selain itu bangsal ini juga digunakan untuk penobatan putra mahkota atau seorang pangeran menjadi Sultan Yogyakarta.

Penobatan terakhir yang dilaksanakan di bangsal ini adalah saat Kanjeng Gusti Pangeran Haryo dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 7 Maret 1989.  Untuk melihat dari dekat bangsal mangunturtangkil Anda harus membayar tiket masuk seharga Rp. 3.000.

Pesona Kediaman Raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Selanjutnya, kita akan menyusuri bagian dalam keraton melalui Jalan Rotowijayan. Di jalan ini berdiri sebuah Museum Kereta Keraton yang buka sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Sebelum masuk ke area keraton bagian dalam yang disebut dengan kompleks Kamandhungan, kita harus membayar tiket masuk seharga Rp. 5.000 plus bea tambahan Rp. 1000 untuk setiap kamera yang dibawa pengunjung.

Artikel Terkait : Goa Maria Tritis, Mengenang Cinta Kasih Tuhan Ditanah Perbukitan

Yang paling menarik dari kompleks Kamandhungan adalah kita bisa melihat kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono X yang tak lain adalah Gubernur DIY saat ini, pertunjukkan seni tradisional dan Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kediaman Sri Sultan Hamengku Buwono X disebut dengan Gedhong Jene hanya bisa kita lihat dari kejauhan. Bangunan ini dihiasi dengan ornamen khas Jawa yang luhur.

Selanjutnya, kita melangkah ke Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang diresmikan pada tanggal 28 November 1992. Bangunan museum ini sangat indah. Atapnya dipenuhi dengan hiasan bernuansa emas dan warna merah. Koleksi Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah seputar barang-barang pribadi mendiang Raja Yogyakarta ini seperti mainan, sarung tangan, foto sewaktu anak-anak, foto saat dewasa dan masa-masa pemerintahan. Tak ketinggalan juga foto Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas beserta 5 putrinya. Bagi penyuka batik, Anda juga bisa mengunjungi ruang yang memamerkan aneka koleksi batik lengkap dengan keterangannya.

Secara umum, bangunan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibagi menjadi beberapa bagian yakni Siti Hinggil Ler, Kamandhungan Kidul Ler, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul dan Siti Hinggil Kidul.

Nah, daya tarik selanjutnya adalah pagelaran budaya tradisional yang rutin dihelat setiap hari. Pada hari Minggu misalnya, Anda bisa melihat tari klasik Jawa yang dipertunjukkan sejak pukul 11.00 WIB di bangsal Sri Manganti. Para penari dengan lemah gemulai bergantian membawakan tarian klasik ini seperti tari Golek Ayun-Ayun dan tari Beksan Srikandi.

Selain melihat semua pesona budaya Jawa di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Anda juga bisa melihat aktivitas para guide, abdi dalem dan pengunjung dari berbagai negara, termasuk juga wisatawan domestik. Keraton khususnya di hari Minggu banyak dimanfaatkan para pelajar dari berbagai kota di Indonesia untuk mempraktekkan kemampuan berbincang dalam bahasa Inggris. Turis-turis ini pun dengan senang hati meladeni berbagai pertanyaan dan berbincang sekaligus berfoto bersama.

Baca Juga : Sewa Bus Jogja Terbaik dan Paket Wisata Jogja Terbaik

Keraton Yogyakarta yang dibangun sejak tahun 1756 M oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I ini bukan sekedar situs sejarah. Ia menjadi kediaman raja yang hingga kini masih memimpin sebagai Gubernur DIY. Liburan ke Yogyakarta tak akan pernah lengkap tanpa berkunjung ke istana raja ini. Letaknya ada di pusat kota tidak jauh dari Malioboro, tepatnya berada di belakang alun-alun utara.

Informasi tambahan:

Jam Operasional

08.00 –  14.00 WIB

Tiket masuk :

Tepas kaprajuritan : Rp. 3.000

Tepas pariwisata karaton : Rp. 5.000

Biaya kamera : Rp. 1.000

Pertunjukkan

Minggu, 11.00 – 12.00 WIB : Tari klasik

Senin & Selasa, 10.00 – 12.00 WIB : Lagu-lagu Jawa

Rabu, 09.00 – 13.00 WIB :  Wayang golek

Kamis, 10.00 – 12.00 WIB : Gamelan

Jumat, 10.00 – 12.00 WIB : Macapat

Sabtu, 11.00 – 12.00 WIB : Wayang kulit

Selama berlibur di Yogyakarta, Anda bisa menginap di Yogya Kembali HotelHotel Mawar Asri dan Merapi Hotel.

Destinasi wisata lain yang bisa Anda kunjungi adalah Taman Sari, kawasan Malioboro dan wisata kuliner Gudeg Wijilan.

Rate this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×
New Order